BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Abstrak
Arus globalisasi terus berkembang sejak dua dekade terakhir. Perkembangannya dapat dilihat dengan meningkatnya persaingan antar bangsa melalui masuknya produk-produk asing dari mana saja sehingga tidak ada lagi batas yang jelas antara satu negara dengan negara lain. Hal yang sama juga akan terjadi pada perusahan - perusahan jasa konstruksi ( firma binaan ) yang ada di Indonesia. Jika perusahaan Jasa konstruksi tidak siap dengan kualitas yang diinginkan pelangan maka perusahaan tersebut akan ditinggalkan oleh pelangannya. Untuk itu dilakukan penelitian faktor apa saja yang dapat mempengaruhi budaya kualitas dalam perusahan Jasa kontruksi kualifikasi A. Hasil penelitian menunjukan ada delapan faktor yang mempengaruhi budaya kualitas yaitu Kepemimpinan struktur organisasi, komunikasi, motivasi, kelompok kerja, sistem penghargaan, pendidikan dan latihan, serta pemberian kuasa.
1.2. Latar Belakang
Arus globalisasi terus berkembang sejak dua dekade terakhir ini. Perkembangannya dapat dilihat dengan meningkatnya persaingan antar bangsa melalui masuknya produk-produk asing dari mana saja sehingga tidak ada lagi batas yang jelas antara satu negara dengan negara lain. Hal yang sama juga akan terjadi pada perusahan-perusahan jasa konstruksi ( firma binaan ) yang ada di Indonesia. Jika perusahaan jasa konstruksi tidak siap dengan kualitas yang diinginkan pelangan maka perusahaan tersebut akan ditinggalkan oleh pelangannya. Hanya produk danpelayanan yang berkualitas yang dapat memenuhi kepuasan pelanggan yang akan dapat suvive dalam persaingan global. Menurut kamus dewan bahasa ( 1989 ), budaya merupakan tamadun, peradaban, cara berkelakuan ( berpikir ), dan akal budi. Malinowski ( 1983 ) mengatakan budaya adalah peralatan, adat dari kelompok sosial, buah pikiran manusia dankepercayaan atau dengan kata lain suatu cara hidup dimana manusia berada dalam keadaan yang lebih baik untuk mengatasi masalah nyata dan tertentu yang dihadapinya semasa beradaptasi dengan lingkungan guna memenuhi kebutuhannya. Sementara itu Kunda ( 1992 ), Van Maanen dan Kunda ( 1989 ) mengungkapkan bahwa budaya adalah mekanisme sosial yang menuntun atau dapat dijadikan dasar untuk menggerakan anggota-anggotanya supaya memahami, berfikir dan merasakan berada jalan yang betul dan benar. Selanjutnya Rita ( 2003 ) merumuskan bahwa budaya merupakan suatu pola dan mekanisme sosial yang dijalankan oleh suatu organisasi untuk mengurus anggotanya dan dapat dijadikan dasar yang tegas untuk menggerakan anggotanya dalam melaksanakan pekerjaannya dengan baik. Mutu adalah penggerak dari manajemen berkualitas ( Deming, 1986 ). Menurut Duran ( 1988 ) banyak defenisi danmaksud dari mutu, setiap orang mengartikan secara berlainan seperti kesesuaian dengan syarat/tuntutan, kesesuaian untuk pemakaian, perbaikan/ penyempurnaan lanjutan, bebas dari kerusakan/kecacatan, melakukan segala sesuatusecara betul dari awal, sesuatu yang biasa untuk menyenangkan hati pelanggan. Oleh sebab itu mutu mempunyai banyak dimensi yang menggambarkan kebutuhan dan menyenangkan hati pelanggan. Menurut Steven ( 1996 ) mutu adalah dimensi keseluruhan produk atau servis yang dapat memuaskan kehendak atau keperluan pengguna. Dimensi tersebut meliputi nilai-nilai prestasi, keamanan, kepercayaan kesesuain harga, tidak mudah rusak, mudah diperbaiki dan mempunyai nilai estetika. Sementara Goetsch dan Davis ( 1994 ) menyatakan bahwa mutu diartikan kesesuaian dengan tuntutan, kesesuain pemakai, perbaikan, bebas dar kerusakan, dan sesuatu yang menyenangkan hati stake holders. Menurut Granross dalam Rita ( 2003 ) ada tiga pokok utama dalam mutu yaitu berkaitan dengan hasil, kesan, dan kreteria.
Ketiga utama ini dikembangkan menjadi enam yaitu:
(i) profesional dan ahli;
(ii) sikap dan prilaku;
(iii) akses dan fleksibel;
(iv) dapat dipercayai dan amanah;
(v) solusi yang tepat; dan
(vi) reputasi.
Jika dikaitkan dengan perusahaan jasa konstruksi ( firma binaan ) kreteria dan ukuran mutu dapat dilihat dari dokumen kontrak kerja antara kontraktor dan pemilik proyek yang meliputi anggaran, kualitas produk, jangka waktu pelaksanaan, keselamatan dan kesehatan kerja ( Prijono,1997 ). Oleh sebab itu pelayanan yang berkualitas pada perusahaan jasa kontruksi dapat dilihat dari biaya pelaksanaan yang tidak melebihi rencana biaya yang dianggarkan dalam pelaksanaan, waktu pelaksanaan yang sesuai, dan kualitas produk yang dihasilkan telah memenuhi standar yang telah ditetapkan.
1.3. METODOLOGI PENELITIAN
Penelitian dilakukan terhadap perusahaan jasa konstruksi yang berkualifiasi A melalui borang isian ( questionnaire ). Perusahaan berkualitas A adalah perusahaan yang memiliki sertifikat tertinggi dengan nilai kontrak melebihi Rp. 10Milyar ( Anon., 2000 ). Pertanyaan dalam borang penelitian diberikan kepada perusahaan dengan dua kategori:
1. pertanyaan untuk mengetahui faktor-faktor pembangunan budaya kualitas;
2. untuk mengetahui hubungan danpengaruh faktor-faktor budaya kualitas tersebut.
BAB II
ISI
ISI
Berdasarkan pembahasan yang dijelaskan diatas, maka dalam hal mengatasi semua hal yang sedang terjadi, sangatlah perlu serang pemimpin yang baik, maka pemimpin yang baik dapat memberikan solusi untuk mengatasi atau mencegah hal – hal yang terajadi berdasarkan pembahasan di atas.
Dengan demikian untuk menyelesaikan masalah – masalah yang sedang terjadi, perusahaan jasa konstruksi yang ingin bermutu dan berkualitas harus melakukan perubahan mulai dari budaya tradisional menjadi budaya yang diinginkan stakeholders. Perubahan tersebut dapat dilakukan melalui pendekatan seperti ditunjukkan pada tabel berikut:
Tabel 1: mekanisme perubahan budaya ( Bushaid dan Ali, 1995 )
Pendekatan kualitas Tradisional Pendekatan Budaya kwalitas
Berpikir jangka pendek Berpikir jangka panjang
Orientasi hasil Orientasi proses
Orientasi kuantitas Orientasi kualiti
Orientasi keterampilan Orientasi pada sistem
Orientasi pengurusan Orientasi pemimpin
Fokus pada penyelia Fokus pada pelanggan
Sesuai standar Perbaikan terus menerus
Kumunikasi satu arah Komunikasi dua arah
Bekerja secara individu Bekerja secara kelompok
Latihan sering dianggap tidak produktif Pendidikan dan latihan dilakukan secara terus menerus
Prilaku menyalahkan Pemecahan masalah
Tindakan pembetulan Tindakan pencegahan
Mengurangi biaya Memperbanyak pemasaran
Orientasi pada kepakaran Orientasi pada teknologi
Struktur dengan hirarki Struktur dengan sistem rata
Pengawasan dari eksternal Pengawasan dalam bentuk diri sendiri (internal)
2.1. PEMBAHASAN.
Berdasakan hasil penelitian di atas ditemukan faktor-faktor yang mempengaruhi budaya kualitas bagi perusahaan jasa kontruksi di Indonesia yaitu faktor Kepemimpinan, struktur organisasi, komunikasi, motivasi, kerja kelompok, sistem penghargaan, pendidikan dan latihan, pemberian kuasa.
Masing-masing faktor tersebut diuraikan sebagai berikut:
1. Kepemimpinan.
Pemimpin adalah seorang yang dapat mempengaruhi orang lain ke arah yang berkualitas untuk mencapai tujuan perusahaan. Pemimpin berperan dengan cara mengarahkan, membimbing, memberi motivasi kerja, memonitor organisasi, menjalin komunikasi yang baik, memberikan pengawasan yang baik untukmelaksanakan visi dan misi ataupun sasaran yang ditetapkan organisasi ( perusahaan ). Hal ini akan tercapai dengan visi dan misi yang jelas, komitmen pimpinan, ketokohan dan keteladanan, dan dorongan semangat
2. Struktur Organisasi.
Struktur organisasi adalah satu sistem untuk menyamakan presepsi dan tujuan serta memotivasi pekerja dalam organisasi. Struktur organisasi bertujuan untuk mengontrol penggunaan sumber daya dalam organisasi. Struktur organiasai juga akan memberikan informasi jenis organisasi, bagian organisasi, kedudukan, jenis jabatan, batasan, hubungan atasan bawahan, tingkatan pengurus, dan bidang pekerjaan ( Malayu, 2001).
Struktur organisasi dipengaruhi oleh peranan pengurus tertinggi dalam sruktur organisasi, hubungan antar pengurus dan bawahan serta pekerja, Kepemimpinan, dan lingkungan sekitar organisasi tersebut
3. Komunikasi
Komunikasi merupakan proses pengiriman dan penerimaan informasi baik lisan maupun tulisan dalam suatuorganisasi. Komunikasi berperan penting dalam membentuk, memajukan dan memastikan keberhasilan sebuah organisasi. Komunikasidapatdijalankan dengan memberi kepercayaan kepada bawahan, memberi pendapat yang baik, komunikasi lebih terbuka dan komunikasi yang lebih mudah dipahami, serta interaksi secara bersahabat dan kebebasan mengeluarkan pendapat.
4. Mitivasi
Motivasi adalah tingkah laku atau sesuatu yang mendorong seseorang mencapai tujuan di dalam organisasi. Manajer berperan untuk mendorong para pekerja untuk bertanggung jawab dan bekerja sesuai dengan tugas yang diberikan dengan baik, meningkatkan prestasinya, meningkatkan produktivitas dan kualitas secara terus menerus guna mencapai keuntungan dan keberhasilan organisasi. Motivasi akan timbul dengan memberikan upah yang setimpal, jaminan kesehatan, hubungan dengan rekan sekerja yang baik, pekerjaan yang sesuai, dan peranan pimpinan dengan komunikasi yang baik untuk meningkatkan motivasi secara individu dan kelompok
5. Kerja Kelompok ( Team Work )
Kelompok kerja adalah sekumpulan orang yang bekerjasama untuk mencapai tujuan bersama. Kelompok tersebut memiliki kesepakatan terhadap misi dan ketaatan kepada peraturan yang diberlakukan. Setiap anggota kelompok mempunyai tanggung jawab dan kuasa dalam melaksanakan tugas dan melakukan perbaikan terhadap keseluruhan proses. Setiap anggota kelompok rela berubah dalam menyesuaikan diri dengan anggota kelompok lain, melaksanakan komunikasi dan mempercayai sesama anggota kelompok agar setiap kelompok dapat bekerjasama. Kerja kelompok akan berhasil dengan menetapkan tujuan kelompok, fungsi kelompok, membangun dan mengarahkan kerja kelompok, laporan dan keputusan kelompok.
6. Sistem penghargaan
Sistem penghargaan adalah sistem untuk menghargai jerih payah yang telah dilakukan pekerja kepada perusahaan. Memberi reward dan funishment yang adil dan layak kepada para pekerja yang telah menyumbangkan tenaga dan pikirannya untuk mencapai tujuan organisasi. Penghargaan dapat berupa uang atau benda sesuai kemampuan keuangan perusahaan. Penghargaan dinilai bukan dari banyaknya tetapi ketepatan penghargaan tersebut.
7. Pendidikan dan latihan
Pendidikan dan latihan adalah proses pembelajaran guna mempersiapkan individu untuk melaksanakanpekerjaan yang berbeda pada masa ini dan masa datang. Pendidikan dan latihan diperlukan untuk mencapai tugas tertentu yang harus dilaksanakan sesuai tuntutan. Dengan ilmu dan keahlian yang sesuai dengan teknologi dan perkembangannya akan dapat meningkatkan kemampuan diri dari pekerjaan.
8. Pemberian kuasa
Pemberian kuasa adalah memberi kepercayaan dan kuasa kepada setiap pekerja untuk melaksanakan pekerjaanya melalui perencanaan, pelaksanaan, pengawasan dan tanggung jawab untuk mengambil keputusanyang dianggap tepat dalam rangka penyempurnaan pekerjaannya. Pemberian kuasa merupakan keterlibatanpekerja secara menyeluruh untuk melaksanakan setiap proses dalam membuat keputusan dan menyelesaikan masalah. Pemberian kuasa dipengaruhinya oleh sistem dan prosedur pemberian kuasa, kebijakan pemberikuasa, dan peranan pekerja yang diberi kuasa
Dari delapan faktor tersebut terdapat hubungan timbal balik diantara faktor-faktor yang mempengaruhinya yaitu untuk struktur organisasi dipengaruhi oleh faktor pendidikan dan latihan. Faktor pendidikan dan latihan ini merupakan langkah awal untuk melihat kemampuan seseorang. Komunikasi dipengaruhi oleh struktur organisasi, Kepemimpinan, kelompok kerja, dan diklat. Dengan komunikasi yang baik pemimpin akan dapat mendistribusikan atau mendelegasikan pekerjaan kepada kelompok kerja yang telah mendapatkan pendidikan dan latihan sebelumnya sehinga ia dapat bertindak sesuai dengan kewenangannya. Motivasi dipengaruhi oleh komunikasi, kepemimpinan, penghargaan, dan pemberian kuasa. Motivasi akan memepengaruhi seseorang untuk bertindak atau berprilaku. Dengan kepemimpinan yang baik akan dapat memotivasi
para pekerja atau bawahannya. Hal ini dapat dilakukan melalui penghargaan, memberi kuasa ( promosi ) dankomunikasi yang baik. kepemimpinan dipengaruhi oleh struktur organiasai dan pemberian penghargaan. Kepemimpinan adalah proses awal dari pemegang kuasa untuk mempengaruhi orang lain bagi mencapai tujuan yang diinginkan organisasi. Tanpa organisasi tidak akan ada kepemimpinan apalagi pemberikan penghargaan. Kelompok kerja dipengaruhi oleh struktur organisasi dan kepemimpinan Kedudukan dan tanggung jawab individudalam kelompok diatur oleh struktur organisasi. Peranan pimpinan dalam kelompok kerja sangat menentu kantercapainya sasaran yang diinginkan dalam kelompok tersebut.
Penghargaan dipengaruhi oleh pendidikan dan latihan. Penghargaan sebagai balasan atas keberhasilan pekerja dalam mencapai tujuan organisasi. Penghargaan juga diberikan sebagai keberhasilan seseorang dalam pendidikan atau dalam latihan tertentu. Dengan penghargaan tersebut sesorang akan dapat meningkatkan prestasi kerjanya.
Pendidikan dan latihan dipengaruhi oleh kepemimpinan dan kelompok kerja. Pendidikan dan latihan adalah prosespembelajaran yang mempersiapkan individu untuk melaksanakan pekerjaan yang berbeda pada masa kini dan masa datang. Dengan pimpinan yang baik akan memberikan kesempatan kepada individu untuk mengikuti pendidikan danpelatihan. Dengan hasil pendikan dan latihan tersebut itu pula pekerja dapat dikelompok menjadi kelompok kerja yang sesuai dengan tujuan organisasi
BAB III
PENUTUP
3.1 KesimpulanDengan demikian Dapat disimpulkan Kepemimpinalah yang dapat mempengaruhi suatu perusahaan jasa konstruksi dapat berjalan dengan baik, dan dapat memperoleh sesuatu yang berkwalitas baik dan bermanfaat bagi semua orang yang membutuhkannya. Dan kepemimpinan itupun bukan saja dapat datang dengan sendirinya tetapi melalui pelatihan secara terus menerus.
3.2 . Saran.
Dari semua yang telah dibahas, maka disarankan agar seorang pemimpinan harus memberikan perhatian kepada semua orang atau sekelompok orang yang dipimpinya, atau memberikan suatu penghargaan agar dapat mendorong motivasinya dalam menjalankan tugasnya dengan baik dengan penuh semangat.